Bedah Cerpen Kakus Umum, karya Yasunari Kawabata
Perhatikan kalimat pembuka Cerpen Kakus Umum karya Yasunari Kawabata berikut ini: Suatu musim semi, dahulu kala di Arashiyama, Kyoto. Kata pembuka yang biasa saja, barangkali untuk sekarang ini sudah tidak efektive, apalagi dengan tambahan dahulu kala. Agak klise. Para wanita dari keluarga terpandang di Kyoto, anak-anak gadis mereka, para geisha dari kawasan pusat hiburan, dan para pelacur datang mengenakan pakaian musim semi untuk menonton bunga sakura yang mekar. Walaupun setelah membaca itu saya tidak tertarik membaca lanjutannya, namun kalimat itu tidak membosankan, dengan tidak terlalu banyak memberikan kata penghubung, hanya satu kata penghubung tiap koma yaitu dan. Jelas kalimat berkelas. Tidak kaku. "Kau jangan salah sangka. Kakus punyaku tidak akan jorok seperti punya Hachihei. Telah kudengar bahwa upacara minum teh populer di ibukota. Jadi aku bermaksud membangun kakus mirip upacara minum teh." Kesan pertama saya dibuat nyengir, imajinasi yang liar...